Sesuatu yang ngga terlihat itu kadang menyakitkan. Contohnya aja omongan yang keluar dari mulut kita. Memangnya buat sebagian orang menjadi down to earth itu susah ya? koq kayaknya "me-manage" omongan sendiri itu susah? seperti ngga mikir dulu gmn keadaan orang yg diajak bicara, apakah orang tersebut berkenan dengan omongan yg dikeluarkan, apakah orang tersebut dapat menerima omongan yg sudah terlanjur "menyakitkan" baginya.
Buat mereka yang terbiasa ngomong sesuai mood-nya, itu payah banget deh. Menurutku, orang seperti itu yg meminta orang lain yg harus mengerti keadaan dia. "Gue emang kayak gini, moody person", so misal kalimat itu dia teruskan, bisa jadi terusannya: "Jadi elo harus menerima gue apa adanya begini." Ngga penting banget orang yg seperti itu. Mereka minta dihargai, tetapi sepertinya tidak bisa (atau tidak mau) menghargai orang lain. Kalau dia sendiri yg diperlakukan sebaliknya, orang lain yg moody ke dia dan dia dibentak seperti apa yg dia lakukan ke orang lain, apa dia masih bisa terima dengan situasi dan keadaan seperti itu? Aku rasa ngga. Malah mungkin dia akan balik bentak lebih keras lagi. Karena orang seperti itu ngga bisa dilawan, mereka merasa benar. Dan bila kita dalam situasi seperti itu, maka kita yg harus mengalah. Karena berada dalam situasi berdebat dengan orang seperti itu ngga akan ada habisnya. Useless and wasting time.
Bila akan bertindak,berkomunikasi dan bersosialisasi dengan lingkungan kita (baca:lingkungan kerja), mengajak bicara dengan orang lain, keluarkan kata-kata termanismu, jangan bernada membentak, kalau misal mau marah, sebaiknya beri kata-kata yg memberi saran,jangan malah menuduh atau menghakimi, bantu teman sekerjamu bila mereka sekiranya butuh bantuanmu, dan bersikap manislah dengan mereka. Dengan begitu kamu akan dihargai dan disegani oleh sesamamu.
Words of the Day: Perhatikan kata-kata yang keluar dari mulutmu.
1 komentar:
testing
Posting Komentar